Pages

Monday, June 27, 2016

Menjadi Seorang Ibu






Menjadi Seorang Ibu

Menjadi seorang ibu adalah anugrah

Menjadi seorang ibu adalah perjalanan

Menjadi seorang ibu bukanlah kompetisi

Tapi yang saya jumpai sekarang,menjadi seorang ibu itu lebih seperti ajang pamer dan kompetisi disertai ajang menghakimi cara ibu lain yang tidak sejalan dan sepaham antara ibu satu dengan yang lain dan akhirnya berakhir menjadi Mommies War dengan korban ribuan ibu menjadi tersinggung dan sakit hati padahal sejatinya kita semua harus ingat,sebagai sesame ibu,kita pasti tahu setiap ibu (yang waras) pasti menginginkan dan mengusahakan yang terbaik bagi buah hatinya.

Banyak hal yang menjadi sumber perdebatan dan ajang penghakiman di ajang Mommies War, mulai dari Lahiran SC vs Lahiran Normal , ibu bekerja vs ibu dirumah, ibu homemade MPASI vs MPASI instan , ibu pakai nanny vs tidak pakai nanny , ibu pakai stroller vs tidak pakai stroller ,  ibu ASI vs sufor bahkan yang terbaru sampai mempermasalahkan pemberian ASIP (ASI Perah) dan saya membaca semua debat kusir tersebut dan hanya bisa tertawa , kenapa saya sebut debat kusir? Dan kenapa saya hanya bisa tertawa?

Saya sebut debat kusir karena saya lihat ibu ibu yang saling berdebat dan menegaskan caranya yang paling benar ternyata kebanyakan anaknya baru berusia paling besar 2-3 tahun dan baru punya 1 anak , dan saya tertawa saja melihat cara mereka menghakimi cara ibu lain yang tidak sesuai dengan cara mereka dan dengan keyakinan penuh bahwa cara merekalah yang paling bagus itu tidak punya bukti apapun mengenai cara merekalah yang paling benar.
Contoh kasus :
 Ibu pekerja vs Ibu dirumah (Stay at home Mom)
Stay at Home Mom selalu memandang rendah ibu pekerja,menganggap ibu pekerja egois dan nantinya menjadi tidak dekat kepada anak , apakah Stay at Home Mom punya bukti? Buktinya hanya mengacu kepada diri mereka sendiri yang sangat dekat kepada anak dan melihat tetangganya yang ibu pekerja dijauhi anak,tapi apakah bukti itu cukup untuk menghakimi seluruh ibu ibu pekerja?? TENTU SAJA TIDAK.
Kalau diBali malah lain kasus , Stay at Home Mom selalu dipandang sebelah mata oleh Ibu Pekerja karena mereka dianggap malas dan hanya menghabiskan uang suami dan tuduhan itu hanya berdasar dari hati picik diri mereka sendiri tanpa mau memikirkan situasi dan kondisi kenapa ibu lain memilih jalan yang berbeda dari mereka.

Ibu ASI vs Sufor
Ini merupakan perdebatan paling panas yang masih terjadi sampai sekarang, Ibu ASI selalu mencibir dan memandang rendah para Ibu yang memberi Sufor,tanpa mereka pernah memikirkan lebih jauh kenapa Ibu Sufor memberi Sufor kepada anak mereka. Ibu ASI mengklaim dengan memberi ASI (apalagi ASI Ekslusif) anaknya pasti akan menjadi pintar,tidak gampang sakit dan anak hasil Sufor pasti akan gampang sakit dan tidak akan menjadi sepintar anak mereka . Dan Ibu ASI tersebut mengklaim sepihak tanpa adanya bukti konkrit benarkan anaknya akan lebih pintar daripada anak hasil sufor,wong anaknya sendiri saja baru berusia 2 tahun , punya rapot saja belum bagaimana mau membuktikan anaknya akan lebih pintar daripada anak hasil sufor?
Dan bicara ASI pasti bicara bonding ibu dan anak,benarkan yang memberi ASI bondingnya akan lebih kuat? Bisakah kita menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban YA dan TIDAK secara tegas tanpa hasil penelitian dan bukti yang lebih konkrit?

Dan saya melihat awal mula terjadinya Mommies War ini hanyalah masalah EGO semata, Ego setiap ibu yang ingin membuktikan bahwa dirinyalah Ibu Terbaik. Tidak masalah jika anda merasa menjadi Ibu Paling Baik sejagad raya,yang tidak baik adalah anda hanya menghakimi sepihak cara anda yang paling benar dan menjatuhkan,mencibir bahkan menyalahkan cara ibu lain yang tidak sepaham dengan anda sedangkan anak anda sendiri saja baru berusia 2-3 tahun,masih piyik,belum bisa menjadi ajang pembuktian anda untuk pamer bahwa anda berhasil menjadi ibu terbaik.

Menurut saya ada 2 orang Ibu yang jika beliau beliau mau sombong mengklaim bahwa dirinya adalah ibu terbaik itu wajar wajar saja karena 2 orang Ibu ini mempunyai bukti sangat konkrit bahwa mereka sudah sangat berhasil menjadi seorang Ibu yang merawat dan mendidik anak2nya menjadi orang2 yang berhasil. Mari saya beberkan ceritanya..dan cerita ini adalah cerita nyata..

Ibu Saya
Ibu saya menikah dengan Ayah saya pada umur 24 tahun,Ibu saya adalah seorang pegawai bank swasta,begitu mempunyai saya sebagai anak pertama dan menyusul setahun kemudian adik perempuan saya lahir,Ibu saya tetap bekerja karena Ibu masih membiayai adik2nya yang belum selesai sekolah,tetapi Ibu saya tetap memberikan saya dan adik saya ASI,setiap istirahat kantor Ibu saya selalu cepat cepat pulang dan menyuapi saya dan adik saya makan siang. Ibu saya bangun subuh setiap hari untuk memasakan makanan untuk saya dan adik saya.  Saya hanya dapat ASI 4 bulan karena Ibu saya terlanjur hamil lagi,apakah saya menjadi sakit sakitan? Tidak..buktinya sampai detik ini , di usia saya yang 28 tahun ini syukur Puji Tuhan daya tahan tubuh saya termasuk yang paling bagus di keluarga,Adik perempuan saya lebih beruntung,dia mendapat pasokan ASI full 2 tahun tetapi sayang adik perempuan saya daya tahan tubuhnya memang lemah,sangat gampang sekali sakit,padahal kalau pakai teori ASI kan anak yang diberi ASI harusnya lebih strong ya? Tapi itulah manusia,kondisi tiap anak itu berbeda beda tidak bisa dipukul rata menjadi sama semua menggunakan 1 teori,bukan berarti juga artinya anak jangan diberi ASI karena nanti seperti adik saya malah gampang sakit ya..bukan itu tujuan paragraf ini,saya hanya memberi contoh nyata bahwa daya tahan tubuh setiap anak itu berbeda beda,tidak notabene masalah dikasi ASI atau Sufor.
Saat usia saya 2 tahun,Ayah saya mendapat kenaikan pangkat dan dipindahkan ke Jakarta,Ayah saya meminta Ibu saya berhenti bekerja dan ikut bersama Ayah pindah ke Jakarta,disitulah Ibu saya membuat keputusan paling besar dalam hidupnya,Ibu saya merelakan pekerjaannya,meninggalkan kampung halaman dan teman2 dekatnya demi mendampingi Ayah saya di perantauan dan fokus mengurus saya dan adik,karena Ayah saya tidak mau menitipkan kami berdua di penitipan anak. Di usia 4 tahun saya dikaruniai adik laki laki,dan tanpa diketahui sebabnya,ASI Ibu saya yang sebelumnya berhasil memberi adik perempuan saya full ASI tiba2 menjadi macet,adik lelaki saya hanya mendapat ASI 1 bulan selebihnya susu formula.
Lalu kalau menilik teori Ibu Ibu ASI yang mengklaim anak ASI akan menjadi lebih pintar daripada anak sufor , berarti bisa disimpulkan bahwa dari ketiga bersaudara yang akan menjadi paling pintar adalah adik perempuan saya yang mendapat ASI full 2 tahun sedangkan saya dan adik lelaki saya hanya akan menjadi anak biasa biasa saja. Benarkah teori Ibu Ibu (sok) hebat itu?
Gelar pendidikan terakhir saya adalah S2, Master of Chemical Engineering , yang saya dapatkan dari hasil full beasiswa pemerintah Taiwan dan sekarang saya bekerja di Pabrik Polyurethane Foam sebagai kepala departemen Research and Development , Gelar Pendidikan terakhir Adik Perempuan saya adalah S2 , Magister Management dari FE UGM dan sekarang bekerja sebagai Relationship Manager di Mandiri Institutional Banking , dan adik lelaki saya baru saja di wisuda , gelar terakhir adik lelaki saya adalah dr.,ya..adik lelaki saya baru saja lulus menjadi seorang Dokter,yang sekarang sedang menjalankan program internship untuk mendapat SIP dan melanjutkan pendidikan di bidang bedah saraf.
Ibu saya sangat sangat berhak untuk sombong karena beliau telah berhasil mendidik anak2nya  menjadi anak anak yang berhasil,ketiga anak beliau semuanya mendapatkan strata pertama di Universitas Negri,dua anaknya berhasil menjadi sarjana S2 dan anak laki lakinya sebentar lagi akan menjadi dokter spesialis. Apakah Ibu saya koar koar via status medsos menghakimi cara ibu lain yang tidak sejalan?  Tidak..Ibu saya merupakan wanita yang sangat humble,tanpa sungkan bertanya kepada ibu ibu yang lebih sepuh tentang saran parenting dan tanpa rasa jumawa berbagi saran kepada ibu ibu yang lebih muda yang bertanya seputar parenting kepada beliau.
Apakah kami bertiga berhasil memperoleh gelar gelar tersebut hanya karena dicekoki ASI atau Sufor? Tidak ibu ibu..ASI,Sufor hanya bagian kecil dari factor kecerdasan anak..Faktor yang paling penting dalam menentukan keberhasilan seorang anak adalah bagaimana keluarganya mendidik anak tersebut. Jadi janganlah sesumbar baru bisa memberi ASI eksklusif sudah mencibir dan merendahkan ibu ibu lain yang tidak berhasil memberi ASI kepada anak2nya,Menghakimi ibu ibu yang tidak berhasil memberi ASI sebagai Ibu yang malas dan tidak niat memberikan yang terbaik bagi anak2nya, Hey buktikan dulu anakmu sudah menjadi orang berhasil baru silahkan koar koar.


Ibu Mertua
Ibu Mertua saya adalah Ibu Pekerja,dikaruniai 1 anak lelaki yang beliau tunggu cukup lama,saat melahirkan suami saya saya dalam kondisi sungsang. Ibu mertua saya memberi suami saya full ASI selama 2 tahun , Ibu Mertua saya tetap bekerja untuk ikut membantu perekonomian keluarga ,realistis saja karena untuk memberi suami saya hidup yang layak,Bapak dan Ibu mertua saya harus sama sama bekerja. Dan dengan kerja keras beliau beliau,suami saya berhasil menjadi seorang dokter dan sekarang sedang menempuk pendidikan dokter spesialis THT. Dan  Apakah suami saya jadi tidak akrab dengan Ibunya sendiri karena semasa kecil selalu dititipkan dirumah kakek atau diurus pembantu? Tentu saja tidak..Setiap pulang kerja,ibu mertua saya selalu menyempatkan diri mengajari suami saya berbagai macam hal,subuh subuh bangun pagi untuk memasak dan membuatkan suami saya bekal makan siang,setiap siange mengecek kondisi anaknya apakah sudah pulang sekolah dan sudah makan atau belum dan Suami saya sangat dekat dengan ibunya,bahkan curhat jodohpun bisa cerita sampai malam dengan ibunya. Apakah Ibu mertua saya koar koar merendahkan ibu non ASI yang kerjanya diam dirumah? Tentu saja tidak..Jadi janganlah merasa sok  cara anda merupakan cara yang paling benar. Janganlah mengucilkan jerih payah dan usaha usaha ibu lain yang juga ingin memberikan yang terbaik untuk anak mereka sedangkan anda sendiri saja belum punya bukti konkrit.
Dari dua contoh diatas bisa diambil kesimpulan juga kalau mau anak dikasi full ASI seperti suami saya atau mau full sufor seperti adik lelaki saya hasilnya sama saja,sama sama bisa menjadi seorang Dokter. Karena yang menjadikan anakmu berhasil itu adalah usaha dan perjuangan dari hati yang terdalam,mendidik,merawat dan mengusahakan sekolah,pendidikan serta kehidupan yang terbaik untuk menunjang keberhasilan anak anakmu. Seorang anak itu bisa pasti bisa merasakan jika ibunya sayang luar biasa kepada mereka,karena ibu dan anak merupakan hubungan hati,tidak akan dikalahkan hanya karena ditinggal bekerja (bekerja demi mereka juga) atau hanya karena tidak diberi ASI (atau ASI langsung dari gentongnya).
Jadi para Ibu, marilah kita saling sharing pengalaman parenting dengan cara yang lebih sopan tanpa menyakiti atau menyinggung perasaan ibu lain. Ibu adalah mahkluk paling sensitive apalagi yang berkaitan dengan anak mereka karena sejatinya setiap ibu (yang waras) pasti menginginkan dan mengusahakan yang terbaik bagi buah hati mereka.
Dan jika kamu tetap bebal merasa sebagai ibu yang paling benar dalam cara membesarkan anak,silahkan saja tapi berikan kami bukti yang konkrit anakmu sudah jadi orang berhasil atau belum karena jika kamu hanya koar koar saja maka jangan salahkan kami jika kami hanya mentertawakan serta mengasihanimu dan pikiran picikmu.

Menjadi seorang Ibu adalah kebahagian,kebahagiaan yang selayaknya kita bagi tanpa mengurangi kebahagian ibu ibu lain. Mungkin tanpa sadar anda pamer cara parenting anda dan tanpa sadar menyakiti hati ibu ibu lain yang membesarkan anak dengan cara yang berbeda. Marilah kita ubah semua Mommies War yang ada menjadi Mommies Love karena hanya sesama ibu yang mengerti suka dukanya menjadi seorang Ibu J




Salam seperjuangan ,
dari Ibu pekerja beranak 1 yang berusia 1,5 tahun dan memberi anaknya susu formula karena ASI-nya sudah tidak keluar lagi









Pictures from google.com (in case the picture is myself,that must be from my own gallery :p )

1 comments:

Free Blog Template by June Lily